Kontrakan Cinta

Aku punya
teman sebut saja dia Edy asal kota,
Surabaya. Kami kuliah di kota JAkarta.
Pengalaman ini terjadi saat kami
mengawali kuliah dan bersama dalam satu kontrakan. Suka duka kami lalui
bersama sampai dalam hal pacaran pun
kami saling membantu dalam berbagai
hal. Hingga suatu waktu Edi
mendapatkan seorang pujaan hati sebut
saja Dewi, sering Dewi diantar jemput kalau kuliah karena mereka satu kampus
dan kebetulan kontrakan Edi berdekatan
dengan kost tempat tinggal Dewi. Mereka
berdua bagaikan Romeo dan Juliet.
Dimana ada Edi di situ ada Dewi.
Hubungan mereka pun semakin akrab dan intim. Suatu ketika, malam Minggu tepatnya
Dewi minta diantar ke tempat temannya
yang sedang merayakan ulang tahun.
Acara sangat meriah sekali, hingga jam
24:00 acara masih berlangsung. Tetapi
Dewi mengajak pulang, karena waktu yang sudah kelewat malam. Sebenarnya
Edi pun menolak karena begitu
meriahnya pesta ulang tahun tersebut.
Dan akhirnya Edi pun menyanggupi
untuk segera mengantar pulang Dewi,
malam semakin larut dan udara dingin pun menyelimuti dan menghembus
sepoi-sepoi dalam deru sepeda motor Edi,
mereka sempat berhenti sejenak di
pompa bensin untuk mengisi bensin.
Sesampai di kost tempat Dewi ternyata
pintu gerbang sudah dikunci, padahal Dewi sudah pesan kepada pembantu agar
pintu jangan dikunci, soalnya Dewi
pulangnya ke kost terlambat. Dan
akhirnya Edi pun kasih solusi.
“Dewi.. gimana kalau tidur saja di
kontrakanku,” kata Edi. Dewi terdiam sejenak.
“Gimana ya.. aku kan enggak enak sama
temen kamu Ed,” jawab Dewi.
“Itu bisa diatur, nanti yang penting kamu
mau tidak, dari pada tidur di jalan,” kata
Edi sambil senyum. “Ayolah keburu dilihat orang kan nggak
enak di jalanan seperti ini Nan,” kata Edi. Dewi pun menyetujinya, mereka pun
bergegas menuju kontrakan Edi.
Sesampainya di rumah kontrakan
tampak sunyi dan hanya hembusan angin
malam karena teman-teman Edi pada
malam mingguan dan tidak ada yang pulang di rumah kontrakan.
“Ayo masuk, kok diam saja,” kata Edi
menyapa Dewi.
Dewi pun terhentak sedikit terkejut.
“Teman-temanmu dimana Ed?” tanya
Dewi. “Mereka kalau malam Minggu jarang
tidur di rumah,” jawab Edi.
“Ooo gitu,” sergah Dewi. Akhirnya Dewi dipersilakan istirahat di
kamar Edi.


“Nan, selamat bobok ya..” kata Edi.
Dewi pun tampak kelelahan dan tertidur
pulas. Setengah jam kemudian Edi
kembali ke kamarnya untuk melihat Dewi dan sengaja kunci pintu kamar tidak
diberikan kepada Dewi, tapi betapa
kagetnya Edy melihat Dewi tidur hanya
menggunakan BH dan celana dalam,
karena saat itu posisi tubuh Dewi miring
hingga selimut yang menutupi tubuhnya bagian punggung tersingkap. Entah setan mana yang menyusup di
benak Edy. Edy pun langsung mendekat
ke arah Dewi, dengan tenangnya Edy
langsung mencium bibir Dewi. Dewi pun
terbangun.
“Apa-apaan kamu Ed?” sergah Dewi sambil menutupi tubuhnya dengan
selimut.
Tanpa pikir panjang Edy langsung
menarik selimut dan Edi pun langsung
menindih Dewi yang hanya mengenakan
pakaian dalam saja. Dewi meronta-ronta dan Edy pun tidak menggubris, ia
berusaha melepas BH dan CD-nya. Tenaga
Edi lebih kuat hingga akhirnya BH dan CD
Dewi terlepas dengan paksa oleh Edi.
Nampak jelas buah dada Dewi dan bulu
lembut kemaluannya. Dewi kelelahan tanpa daya dan hanya menangis
memohon kepada Edy. Edi tetap
melakukan aksinya dengan meraba dan
mencium semua tubuh Dewi tanpa
sedikitpun terlewatkan. Dewi terus
memohon, Edi pun tak menggubrisnya. Dan setelah puas menciumi vagina Dewi,
Edi melakukan aksi lebih brutal. Ia
mengangkat kedua kaki Dewi di atas
perut dan dengan cepat Edy mencoba
memasukkan penisnya ke dalam vagina
Dewi. Dewi menjerit tertahan dan hanya isak
tangis yang terdengar, “Kumohon Ed,
hentikan!” seru Dewi dalam isak
tangisnya.
Dan “Bleess, bleess,” penis Edi masuk
dalam vagina Dewi walaupun di awal masuknya cukup sulit.
Edy pun mulai menggoyang pinggulnya
hingga penisnya terkocok di dalam
vagina Dewi. Darah segar pun keluar dari
liang jinak Dewi, ia pun terus memohon.
“Akh.. akh.. hentikan Ed..!” desah Dewi. Tampak sekali wajah Dewi menunjukkan
kelelahan, dan sekarang hanya terdengar
erangan kenikmatan di antara kedua
insan ini.
“Ah.. ah.. ah..” Edi pun terus mengocok
penisnya dalam vagina Dewi dan beberapa saat kemudian terasa Edi akan
mengeluarkan sperma, ia pun langsung
mencabut dan mengocoknya dari luar
dan.. “Croot.. Croot.. Serr..” sperma Edi
muncrat tepat di bibir Dewi dan sekitar
wajah. Mereka kelelahan dan akhirnya tertidur. Hari menjelang pagi saat itu jam
menunjukkan pukul 07:30 pagi, Dewi
terbangun bersamaan dengan itu Edi juga
terbangun. Edi melihat Dewi yang sedang
mengenakan BH dan CD.
“Antar aku pulang sekarang Ed..” kata Dewi.
“Iya.. aku cuci muku dulu,” jawab Edi.
Edi pun mengantar Dewi pulang ke
kostnya. Selang beberapa bulan hubungan mereka
mulai retak, ada selentingan kabar kalau
Edi mendekati cewek lain sebut saja Sinta,
dan akhirnya Edi dan Dewi resmi
bubaran. Tapi reaksi Edi tidak sampai di
situ, justru setelah putus dengan Dewi ia gencar mendekati Sinta. Dengan berbagai
cara dan upaya akhirnya Edi berhasil
mendapatkan Sinta dan mereka resmi
jadian. Sama seperti yang dilakukannya
dulu, ia sering antar jemput kuliah Sinta
dan kalaupun jemput Sinta biasanya tidak langsung pulang melainkan jalan-jalan
kemana saja sambil cari makan tentunya.
Sering pula Sinta diajak ke tempat
kontrakan Edi lebih sering dibandingkan
Dewi pacar yang dulu. 


Pagi itu kuliah jam ke-2 mereka satu
ruangan tapi dosen tidak hadir jadi
kosong, mereka berdua bergegas ke
tempat Edi, sampai di kontrakan rumah
sepi soalnya teman-teman ada yang ke
kampus dan ada juga yang masih tidur. Mereka berdua langsung masuk kamar
Edi, Sinta tiduran di ranjang sambil
mendengarkan musik. Edi masuk
membawakan kopi susu dan tanpa basa
basi Edi membelai rambut Sinta dan Sinta
pun bersandar dalam dekapan Edi. Edi langsung mencium bibir Sinta dan
tangannya mulai masuk dalam baju street
Sinta dan meremas-remas payudara.
“Ed.. jangan dong..” desah Sinta.
“Enggak apa-apa, kan cuma dikit,” kata
Edi, tapi Edi terus menyerang, ia melepas seluruh pakaian Sinta dan Sinta pun
hanya diam tanpa perlawanan, dan jelas
sudah seluruh tubuh Sinta yang kuning
langsat dan payudara lumayan besar.
Mereka mulai bergelut mencium dan
meremas satu sama lain. “Sin, kulum dong kontolku!” kata Edi.
Dibimbingnya kepala Sinta menuju
kemaluan Edi dan, “Em.. kemaluanmu
besar juga Ed,” kata Sinta.
Edi hanya diam menikmati hisapan mulut
Sinta. Edi pun langsung saja menjilati dan menghisap vagina Sinta hingga mereka
melakukan posisi 69.
“Ugh.. Ugh..” desah Sinta.
Kemudian Edi duduk dengan kaki
dijulurkan, ia minta Sinta duduk di
atasnya layaknya seorang anak kecil. Tepat penis Edi masuk dalam vagina
Sinta.
“Pelan-pelan Ed..” kata Sinta mendesah.
Sinta mulai menaik-turunkan pinggulnya
dan “Bleess, bleess..” kemaluan Edi masuk
seluruhnya dalam vagina Sinta. “Ah.. ah.. ah..” desah Sinta sambil
menggoyangkan pinggulnya. Edi pun merespon gerakan tersebut. Dan
mereka melakukan gerakan yang
seirama, “Ah.. ah.. ah..” desah Sinta
semakin keras.
“Aku nggak kuat Ed..” Edi hanya diam
menikmati gerakan-gerakan yang dimainkan Sinta.
Dan akhirnya, “Ugh.. ugh.. ugh.. ahh..”
desah Sinta yang tubuhnya mengelenjang
sambil memeluk tubuh Edi.
Ternyata Sinta mencapai puncak
kenikmatan. Dan Edi membalikkan tubuh Sinta tepat di bawah badannya, Edi mulai
mengocok penisnya yang belum lepas
dari vagina Sinta, dan “Ahk..” desah Edi
dan beberapa saat kemudian Edi
mencabut penisnya dan meletakkan di
bibir Sinta dan “Croot.. Croot.. Serr..” sperma Edi muncrat tepat di seluruh
wajah Sinta. Mereka pun akhirnya
berpelukan setelah mencapai kepuasan. Semenjak kejadian itu mereka sering
melakukannya di kontrakan Edi. Entah
siang atau malam karena Sinta sering
menginap dan tidur satu ranjang bersama
Edi. Hubungan mereka semakin intim dan
hanya bertahan selama 8 bulan. Hal itu disebabkan Dewi mantan pacar yang dulu
mengajak membina hubungan kembali.
Edi akhirnya pisah dengan Sinta dan
kembali lagi dengan Dewi. Suatu sore Dewi datang ke kontrakan Edi,
Dewi langsung masuk menunggu di
kamar Edi karena diminta teman-teman
Edi.


“Edi baru mandi” kata salah seorang
temannya. “Ooo,” jawab Sinta, dan beberapa saat
kemudian Edi masuk dan hanya
mengenakan handuk dilingkarkan di
pinggulnya.
“Sama siapa Wii..” kata Edi.
“Sendiri,” jawab Dewi sambil mendekat ke arah Edi.
Edi tanggap dengan situasi itu, ia
langsung mencium bibir Dewi dan
melepas baju street warna biru muda
yang dipakai Dewi. Edi langsung
mencopot BH dan menghisap puting susu Dewi.
“Ah.. ah..” desah Dewi.
Tangan Dewi langsung meremas penis Edi
yang saat itu handuknya telah jatuh ke
lantai. Edi mulai melapas celana panjang
Dewi serta CD-nya. Mereka bergumul di atas ranjang.
“Ah.. ah..” desah Dewi yang semakin
merasakan kenikmatan.
Edi mengangkat kaki kiri Dewi kemudian
dengan sergapnya Edi mulai
memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi sambil kaki kiri Dewi tetap
terangkat.
“Bleess, bleess..” kemaluan Edi masuk
seluruhnya dalam vagina, Edi suka
dengan posisi seperti itu karena vagina
terasa sempit. Edi mulai menggerakkan kemaluannya
keluar-masuk.

“Ah.. ah.. ah..” erangan kenikmatan
keluar dari bibir Dewi, Edi pun merasakan
kenikmatan pula.
“Ugh.. ugh..” desah Edi pelan. Beberapa saat kemudian Edi melepas penisnya,
Dewi mulai menghisap dan menjilati
penis Edi sambil dikocok dengan jari-
jemari lembut Dewi.
“Kulum dong Wi..” desah Edi. Dewi turuti
saja apa kemauan Edi. Kemudian Edi kembali memasukkan
penisnya dalam vagina Dewi, “Bless..”
langsung masuk dan Dewi sempat
menjerit tertahan karena menahan sakit.
Kemudian Edi mulai menggerakkan
penisnya, “Bleess.. bleess..” kemaluan Edi keluar-masuk.
“Ah.. ah.. ugh..” tubuh Dewi mulai
bergetar dan mengelejang.
“Aku keluar Ed..” desah Dewi tapi Edi
masih mengocok penisnya dalam vagina
Dewi dan Dewi hanya menahan. Kedua tangannya mencengkeram kuat
bibir tempat tidur sambil menahan
gerakan yang Edi lakukan. Edi mulai
bergetar, “Ugh..” desahnya.
“Di luar apa di dalam Wi..” kata Edi pelan.
Dewi hanya diam dan “Croot.. croot.. serr..” sperma Edi keluar di dalam vagina
Dewi.
Edi pun rebah sambil memeluk tubuh
Dewi yang hangat dan lunglai. Mereka tersenyum puas.
“Kamu pinter dech sekarang Wi..” kata
Edi.
“Pinter apa’an,” jawabnya.
“Pinter mainnya, belum lagi bulu vagina
kamu tambah lebat.” Dewi hanya tersenyum saja sambil
tangannya membelai batang kemaluan
Edi. Hari sudah menjelang pukul tujuh
malam dan akhirnya mereka berpakaian
dan keluar untuk makan malam.

Mimpi Ngentot Dengan Rika

Cerita kali ini adalah mengenai pengalamanku ngentot dan menyetubuhi rika cewek paling cantik di kampus. Siang itu amat panas dan aku baru saja pulang kuliah. Saat dirumah ternyata orang rumah pada ga ada, entah kemana. Ya udahlah aq nyantai-nyantai aja dirumah sambil makan dan minum sesuka-ku :D .
Setelah menyelesaikan beberapa tugas rumah, aku nyantai-nyantai di ruang tengah sambil nonton MTV, lama kelamaan bosan juga. Habis di rumah tidak ada siapa-siapa, adikku belum pulang, orang tua juga masih nanti sore. Pembantu tidak punya. Akhirnya aku melangkah masuk ke kamar dan kuhidupkan kipas angin, kuraih majalah hiburan yang kemarin baru kubeli. Kubolak-balik halaman demi halaman, dan akhirnya aku terhanyut.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku segera beranjak ke depan untuk membuka pintu. Sesosok makhluk cantik berambut panjang berdiri di sana. Sekilas kulihat wajahnya, sepertinya aku pernah lihat dan begitu familiar sekali, tapi siapa ya..?
“Cari siapa Mbak..?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Ehm… bener ini Jl. Garuda no.20, Mas..?” tanya cewek itu.
“Ya bener disini, tapi Mbak siapa ya..? dan mau ketemu dengan siapa..?” tanyaku lagi.
“Maaf Mas, kenalkan… nama saya Rika. Saya dapat alamat ini dari temen saya. Mas yang namanya Adi ya..?” sambil cewek itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Segera kusambut, aduuuh… halus sekali tanganya.
“Eng… iya, emangnya temen Mbak siapa ya..? kok bisa tau alamat sini..?” tanyaku.
“Anu Mas, saya dapat alamat ini dari Bimo, yang katanya temennya Mas Adi waktu SMA dulu…” jelas cewek itu.

Sekilas aku teringat kembali temanku, Bimo, yang dulu sering main kemana-mana sama aku.
“Oooh… jadi Mbak Rika ini temennya Bimo, ayo silahkan masuk… maaf tadi saya interogasi dulu.”
Setelah kami berdua duduk di ruang tamu baru aku tersadar, ternyata Rika ini memang dahsyat, benar-benar cantik dan seksi. Dia saat itu memakai mini skirt dan kaos ketat warna ungu yang membuat dadanya tampak membusung indah, ditambah wangi tubuhnya dan paha mulus serta betis indahnya yang putih bersih menantang duduk di hadapanku. Sekilas aku taksir payudaranya berukuran 34B.

Setelah basa-basi sebentar, Rika menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu ingin tanya-tanya tentang jurusan Public Relation di fakultas Fisipol tempat aku kuliah. Memang Rika ini adalah cewek pindahan dari kota lain yang ingin meneruskan di tempat aku kuliah. Aku sendiri di jurusan advertising, tapi temanku banyak yang di Public Relation (yang kebanyakan cewek-cewek cakep dan sering jadi model buat mata kuliah fotografi yang aku ambil), jadi sedikit banyak aku tahu.

Kami pun cepat akrab dan hingga terasa tidak ada lagi batas di antara kami berdua, aku pun sudah tidak duduk lagi di hadapannya tapi sudah pindah di sebelah Rika. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya, paha mulusnya, betis indahnya, dan tidak ketinggalan dadanya yang membusung indah yang sesekali terlihat dari belahan kaos ketatnya yang berleher rendah. Terus terang saja si kecil di balik celanaku mulai bangun menggeliat, ditambah wangi tubuhnya yang membuat terangsang birahiku.

Aku mengajak Rika untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. Rika pun tidak menolak dan mengikutiku masuk setelah aku mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali Rika mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegar berdiri. Aku kemudian usul ke Rika untuk nonton VCD saja. Setelah Rika setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku lirik Rika matanya tidak berkedip melihat adegan itu.


Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Rika, ternyata dia diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, Rika mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian rambutnya yang hitam dan panjang. Rika tampak menikmati, terbukti dia langsung ngelendot manja ke tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan kucium pipinya. Rika tidak protes, malah tangannya sekarang diletakkan di pahaku, dan aku semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang mata bulat indahnya, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tebal nan seksi itu dan Rika membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.
Lidah kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah dengan adegan ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha mulusnya, Rika pun memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalamnya sampai ke selangkangan. Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perutnya kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kaos, Rika merintih lirih. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kaosnya dan mulai meraba-raba mencari BH-nya. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya dan Rika mendesah. Seiring dengan itu, tangan Rika juga mengocok yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan mengelus.

Aku yang sudah mulai terbakar birahi, kemudian melepaskan kaos Rika dan BH-nya hingga sekarang nampak jelas payudaranya yang berukuran 34B semakin mengembang karena rangsangan birahi.
Langsung aku caplok buah dadanya dengan mulutku, kujilat-jilat putingnya dan Rika mendesis-desis keenakan, “Sssh… aaauuh… Mass Adiii… ehhh… ssshhh…” sambil tangannya mendekap kepalaku, meremas-remas rambutku dan membenamkannya ke payudaranya lebih dalam.

Kutarik kepalaku dan kubisikkan ke telinga Rika, “Rika sayang, kita pindah ke kamarku aja yuuk..! Aman kok nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua…”
Rika mengangguk, lalu segera kupeluk dan kugendong dia menuju ke kamar. Posisi gendongnya yaitu kaki Rika memeluk pinggangku, tangannya memeluk leherku dan payudaranya menekan keras di dadaku, sedangkan tanganku memegang pantatnya sehingga yuniorku sekarang sudah menempel di selangkangannya.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, kami terus saling berciuman. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di tempat tidur, Rika tidak mau melepaskan pelukan kakinya di pinggangku malahan sekarang mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.
“Sayang… sabar dong.., lepas dulu dong rok sama celana kamu…” kataku.
“Oke Mas… tapi Mas juga harus lepas baju sama celana Mas, biar adil..!” rajuk Rika.

Setelah kulepas baju dan celanaku hingga telanjang bulat dan yuniorku sudah mengacung keras tegak ke atas, Rika yang juga sudah telanjang bulat kembali merebahkan diri sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar, hingga kelihatan bibir vaginanya yang merah jambu itu.
Aku pun segera menindihnya, tapi tidak buru-buru memasukkan yuniorku ke vaginanya, kembali aku kecup bibirnya dan kucaplok dan jilat-jilat payudara serta putingnya. Jilatanku turun ke perut terus ke paha mulusnya kemudian ke betis indahnya naik lagi ke paha dalamnya hingga sampai ke selangkangannya.
“Auuww… Mas Adiiii… ehhmm… shhh… enaaaakkk Masss…” ceracau Rika sambil kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan dan tangannya mencengkeram sprei ketika aku mulai menjilati bibir vaginanya, terus ke dalam memeknya dan di klitorisnya.

Dengan penuh nafsu, terus kujilati hingga akhirnya tubuh Rika menegang, pahanya mengempit kepalaku, tangannya menjambak rambutku dan Rika berteriak tertahan. Ternyata dia telah mencapai orgasme pertamanya, dan terus kujilati cairan yang keluar dari lubang kenikmatannya sampai habis.
Aku bangun dan melihat Rika yang masih tampak terengah-engah dan memejamkan mata menghayati orgasmenya barusan. Kukecup bibirnya, dan Rika membalas, lalu aku menarik tangannya untuk mengocok penisku. Aku rebahkan tubuhku dan Rika pun mengerti kemauanku, lalu dia bangkit menuju ke selangkanganku dan mulai mengemut penisku.

“Oooh… Rik… kamu pinter banget sih Rik…” aku memuji permainannya.
Kira-kira setengah jam Rika mengemut penisku. Mulutnya dan lidahnya seakan-akan memijat-mijat batang penisku, bibirnya yang seksi kelihatan semakin seksi melumati batang dan kepala penisku. Dihisapnya kuat-kuat ketika Rika menarik kepalanya sepanjang batang penis menuju kepala penisku membuatku semakin merem-melek keenakan.
Setelah bosan, aku kemudian menarik tubuh Rika dan merebahkannya kembali ke tempat tidur, lalu kuambil posisi untuk menindihnya. Rika membuka lebar-lebar selangkangannya, kugesek-gesekkan dulu penisku di bibir vaginanya, lalu segera kumasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya.

“Aduuh Mas… sakiiit… pelan-pelan aja doong… ahhh…” aku pun memperlambat masuknya penisku, sambil terus sedikit-sedikit mendorongnya masuk diimbangi dengan gerakan pinggul Rika.
Terlihat sudut mata Rika basah oleh air matanya akibat menahan sakit. Sampai akhirnya, “Bleeesss…” masuklah semua batang penisku ke dalam liang senggama Rika.
“Rika sayang, punya kamu sempit banget sih..? Tapi enak lho..!” Rika cuma tersenyum manja.
“Mas juga, punya Mas besar gitu maunya cari yang sempit-sempit, sakit kaan..!” rajuk Rika.


Aku ketawa dan mengecup bibirnya sambil mengusap air matanya di sudut mata Rika sambil merasakan enaknya himpitan kemaluan Rika yang sempit ini. Setelah beberapa saat, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan-pelan.
“Aaah… uuuhhh… oooww… shhh… ehhmmm…” desah Rika sambil tangannya memeluk erat bahuku.
“Masih sakit Sayaaang..?” tanyaku.
“Nggak Mas… sedikiiitt… auuoohhh… shhh… enn.. ennnaakk.. Mas… aahh…” jawab Rika.
Mendengar itu, aku pun mempercepat gerakanku, Rika mengimbangi dengan goyangan pinggulnya yang dahsyat memutar ke kiri dan ke kanan, depan belakang, atas bawah. Aku hanya bisa merem melek sambil terus memompa, merasakan enaknya goyangan Rika. Tidak lama setelah itu, kurasakan denyutan teratur di dinding vagina Rika, kupercepat goyanganku dan kubenamkan dalam-dalam penisku.
Tanganku terus meremas-remas payudaranya. Dan tubuh Rika kembali menegang, “Aaah… Masss Adiiii… teruuus Maass… jangan berentiii… oooh… Maasss… aaahhh… akuuuu mauuu keluaaar… aaawww…”
Dan, “Cret… cret… crettt…” kurasakan cairan hangat menyemprot dari dalam liang senggama Rika membasahi penisku.
Kaki Rika pun memeluk pinggangku dan menarik pinggulku supaya lebih dalam masuknya penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Ketika denyutan-denyutan di dinding vagina Rika masih terasa dan tubuh Rika menghentak-hentak, aku merasa aku juga sudah mau keluar.

Kupercepat gerakanku dan, “Aaah… Rikaaa… aku mau keluar Sayaaang…” belum sempat aku menarik penisku karena kaki Rika masih memeluk erat pinggangku, dan, “Crooot… crooot… crooott…” aku keluar di dalam kemaluan Rika.
“Aduuhhh enakkknyaaa…”
Dan aku pun lemas menindih tubuh Rika yang masih terus memelukku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Aku pun bangkit, sedangkan penisku masih di dalam liang senggama Rika dan kukecup lagi bibirnya.
Tiba-tiba, “Greeekkk…” aku dikejutkan oleh suara pintu garasi yang dibuka dan suara motor adikku yang baru pulang.

Aku pun cepat-cepat bangun dan tersadar. Kulihat sekeliling tempat tidurku, lho… kok… Rika hilang, kemana tuh cewek..? Kuraba penisku, lho kok aku masih pake celana dan basah lagi. Kucium baunya, bau khas air mani. Kulihat di pinggir tempat tidur masih terbuka majalah hiburan khusus pria yang kubaca tadi. Di halaman 68, di rubrik wajah, kulihat wajah seorang cewek cantik yang tidak asing lagi yang baru saja kutiduri barusan, yaitu wajah Rika yang menggunakan swimsuit di pinggir kolam renang.

Yaaa ampuun… baru aku sadar, pengalaman yang mengenakkan tadi bersama Rika itu ternyata cuma mimpi toh. Dan Rika yang kutiduri dalam mimpiku barusan adalah cover girl cantik dan seksi majalah yang kubaca sebelum aku tertidur tadi, yang di majalah dia mengenakan swimsuit merah. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Di dalam kamar mandi aku ketawa sendiri dalam hati mengingat-ingat mimpi enak barusan. Gara-gara menghayal yang tidak-tidak, jadinya mimpi basah deeh.

Angel Klientku

Kali ini aku akan bercerita tentang affairku dengan teman sekantor. Sebut saja namanya Angel, 35th, 165cm, 60kg, 34B. Orangnya santai, periang namun kata temen2ku dia agak sedikit judes. Aku baru sekitar 2 tahun bekerja sekantor dengan dia, sementara dia telah 4 tahun di sana. Ohh iya Namaku Fiko(nama samaran)

Cerita ini berawal dari sedikit pengetahuanku tentang komputer. Kebetulan beberapa temenku sering beli komputer rakitan lewat aku, salah satunya Angel ini. Singkat cerita, komputer sesuai spec yang dia ingin aku kirim ke rumahnya, aku rakit dan aku nyalakan. Kemuadian aku suruh Ria mencoba komputernya kalo mungkin ada yang kurang pas. Tapi dia menolak karena ternyata (baru aku tahu) dia belum mahir mengoperasikannya. Kemudian aku tawarkan untuk mengajarinya, dan akhirnya dia pun mau. Setelah kira2 satu jam, karena sudah jam 4 sore aku pamit pulang, tapi dia pesen kalo dia minta aku mengajarinya. Aku terima saja karena emang sepulang kerja aku punya 3 hari free. 


Sesuai jadwal aku dateng ke rumahnya sekitar jam 2.30 siang. Dia ternyata udah siap dan berganti pakaian daster yang agak tipis, sehingga samar2 kulihat cetakan CD dan BHnya yang berwarna krem. Aku agak canggung karena biasanya di kantor dia memakai pakai yang rapi dan sopan. “Kok bengong? Ayo masuk!” katanya. Aku memang sempat agak kaget bercampur senang karena sebagai lelaki normal tentu saja hal membuat naluri lelakiku bangkit. Setelah masuk dan kita mulai session pertama pelajaran komputerku, ternyata dia malah benyak bercerita tentang kehidupannya.

Baru kuketahui ternyata dia sudah bercerai dengan suaminya 3 tahun yang lalu, dan dia sekarang hanya tinggal di rumah dengan ibunya yang sudah berusia 65 tahunan, karena kakak2nya yang semua cewek sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di luar kota. Mengetahui itu, aku mulai melancarkan seranganku dnegan bertanya yang agak berbau seks. Tapi masih kuselingi dengan banyolan, taku kalo dia marah. Tapi alangkah senangnya dia justru menanggapinya dengan satai dan semakin memperdalam guyonan. Setelah sekitar satu jam dia minta istirahat, 

Kemudian kupancing dia dengan memutar video bokep “Tarzan X” yang kebetulan aku simpan di laptopku. Dia tadinya agak malu, namun lama2 dia justru menikmati. Semakin lama kulihat perubahan di raut mukanya. Dan berulang kali dia pamit mau ke belakang. Kemudian dia juga seringkali menyilangkan kakinya, dna tentu saja dasternya sedikit tersingkap dan aku bisa melihat pahanya begitu mulus dan putih. 

Lama2 aku pun mulai terbawa nafsu, adik kecilku juga mulai bangun. Dan ternyata hal itu diketahui oleh Angel. aku pun agak sediakit malu sebelum akhirnya Angelpun mulai mendesah. Dia mulai memgang pahaku yang berada di samping pahanya karena memang kami duduk berdampingan. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku mulai memegang tangannya dan aku remas2. Dia pun ternyata membalas remasanku, bahkan dia mulai berani sengaja menyentuhkan tangannya ke ‘adikku’ yang sudah tegang sejak tadi. Tanpa basa-basi lagi aku mulai mencium bibirnya, namun dia menolak karena takut ketahuan ibunya. Akhirnya dengan masih berpura2 belajar komputer aku ganti aksiku dengan mulai menyentuh payudaranya. Begitu kenyal dan mantap aku rasakan membuat ‘adikku’ pun semakin meronta pengin segera dikeluarkan. Kemudian tanganku mulai menyusup ke balik dasternya yang tipis itu. Dia pun berani membuka resleting celanaku kemudian merogoh ‘adikku’ yang sejak tadi minta diperlakukan lebih.

Dia pun mengeluarkan ‘adikku’, Aku pun tak kalah, aku buka kancing daster yang hanya dua buah, dan aku buka cup BHnya sehinga buah dada yang putih, halus dan mantap itu pun tak sabar kucium, kuhisap, dan kukulum-kulum putingnya yang coklat kemerah-merahan itu. Dia pun smakin keras mengocok-ngocok ‘adikku’ dan mempermainkan ibu jarinya di ujung ‘helmku’ yang memebuat aku semakin tak karuan. Kamudian dia minta ijin aku untuk mencium ‘adikku’, namun tanpa aku jawab dia langsung mencium ujungnya, dan perlahan dia masukkan ‘adikku’ ke dalam mulutnya. Aku sendiri masih asik bermain-main dengan pentilnya yang telah mengeras itu. Semakin lama semakin aku rasakan desakan “lahar’ panas mendorong-dorong mau keluar dari ‘adikku’. 

Namun aku tak mau permainan sampai disini. Ku angkat kepalannya, kemudian aku pun berjongkok dan mulai kuturunkan CDnya. Lalu perlahan aku mulai mencium lembah kewanitaanya yang aromanya membuat aku semakin kesetanan. Dia ternyata rajin merawat vaginanya, bulunya pun tercukur rapih membuat aku semakin bernafsu. Aku cari tonjolan daging kecil di vaginanya dan mulai kujilat. Dia semakin kelonjotan ran menjambak rambutku yang waktu itu agak sedikit panjang. Semakin keras aku sedot semakin dia bergerak tak karuan. 

Dan akhirnya tak lama dia mengerang keras samlbil menjepit kepalaku. Dan kurasakan cairan hangat membanjiri mulutku. Ternyata baru sebentar saja dia sudah orgasme. Maklum karena memang sudah lama dia tidak merasakan belaian lelaki. AKu pun menghisap cairan itu dan menjilatnya sampai habis. Kemudian aku ajak dia ke sofa di samping meja komputer. Dia menolak ketika aku mau melepas dasternya. Akhirnya setelah dia terbaring, aku angkat kedua kakinya dan kuletakkan di atas bahuku. Tersingkaplah daster nya, dan perlahan aku masukkan ‘adikku’ yang telah berlendir ke goa kenikmatan Ria yang ternyata masih sempit sekali. Berulang kali aku mendorong namun aku merasa kesulitan measukkan ‘adikku’. Kamudian aku jilati lagi vaginanya, kukulum-kulm lagi klitorisnya membuat vaginanya semakin becek kembali.


Saat itulah aku kembali memasukkan ‘adikku’ ke liang surgawinya. Perlahan aku dorong masuk, namun ketika baru setengahnya dia merintih kesakitan. “aduhhhhh massss…. pelan-pelan donkkk…..sakitttttttt.’ Aku diamkan dulu sejenak. Benar-benar seperti perawan vaginanya karena memang waktu itu dia baru setahun menikah dan belum mempunyai anak. Setelah dia mulai tenang dia, aku kembali mendorong ‘adikku’. dan bleeesssss,,, masuklah seluruh batang kejantananku. Bagitu hangat dan nikamt kurasakan. Sampai saat ini pun kalo aku ingat kejadian itu aku sering horny karena sensasi yang luar biasa aku rasakan waktu itu.. Perlahan aku mulai memompa vaginanya dengan irama yang semakin aku naikkan. “Sssshhhh…..aduhhhhh….fiko….sshhhhh,terrrruuusssssayangg….aduhhhh…eeennnnaaakkk…..teerruussss…sssaaaayaaanggg….’. 

Aku pun mulai mempercepat gerakanku. Begitu nikmat kurasakan jepitan vaginanya yang seperti meremas dan menyedot ‘adikku’. Sekitar 20 menit kemudian aku merasakan kedutan-kedutan di dinding vaginanya dan kurasakan pula remasannya semakin kuat. Aku pun keenakan sehingga aku pun mulai mendekati titik kulminasiku. Dia pun semakin bergerak kesana kemari tak karuan menikamati sodokan ‘adikku’ dan mengerang-erang keras seperti orang kesakitan, saking kerasnya sampai aku kawatir ibunya akan terbangun, tapi kemudian aku memasukkan jari telunjukku ke dalam mulutnya agar dia tidak meracau, dia pun mengulumnya . Sekitar 20 menit akhirnya kita sama-sama merasakan kenikmatan cairan hangat membanjiri vaginanya dan menyirami ‘adikku’. 

Crooot…crooot…crooot, sekitar 5 sampai 7 kali aku menyemprotkan laharku ke rahimnya. Akhirnya kami berdua terkulai lemas tak berdaya. Namun baru beberapa menit kita istirahat, dan masih sambil berpelukan, ku dengar ada suara langkah kaki mendekati ruang tengah. Aku pun meloncat bangkit menuju kamar mandi, dan dia pun merapikan dasternya dan berpura-pura santai. Sekembali dari kamar mandi aku mendengar ibunya mengatakan sesuatu dan menyebut namaku. Ternyata dia di nasehatin supaya jangan ‘bermain-main’ denganku karena aku sudah berkeluarga. Mungkin dia agak sedikit mengetahui perbuatan kami. Aku pun tak peduli, toh semua sudah terlanjur. Setelah selesai aku pun kembali ke meja komputer dan berpura-pura bertanya pelajarannya mau dilanjutkan tidak. Ria menjawab besok kamis saja, karena dia capek. Akhirnya aku pun pamit pulang. Di tengah perjalanan aku sempatkan mengucapkan terima kasih lewat sms. Dia hanya menjawab : ‘Sama2. Kamu guru komputer yang hebat, sayang!’ Semenjak kejadian itu kami sering mencuri-curi kesempatan ketika aku mengajarinya mengoperasikan komputer. 

Namun kayaknya lebih banyak ‘bermain’ daripada belajarnya, he…he..he…. 
Permainan kami berhenti sampai akhirnya dia menikah dengan seorang duda tapi menjadi pengusaha toko yang cukup sukses. 

Selamat tinggal Angel… 
Terima kasih untuk semua yang kamu berikan….

Cara Memainkan payudara berdasarkan tipe bentuk dan ukuran payudara



Cara memperlalukan payudara wanita untuk mendapatkan kepuasan yang luarbiasa berdasarklan tipe bentuk dan ukurannya, memainkan payudara memang sudah menjadi menu utamna dalah hubungan percintaan tapi untuk mendapatkan apa yang paling diinginkan dalam setiap permainan cinta harus lah ada cara dan tatacara yang benar untuk memperlakukan payudara tersebut jika anda penasaran silahkan baca disini

Gadis Lugu berfoto hampir telanjang bag 4

wajah yang cantik imut lugu tapi menggoda gadis lugu berpose hot yang ini lagi pamer payudara padat gede dan berisi dah gak canggung lagi berfose di depan kamera langsung saja lihat fotonya













zaman sekarang memang mungkin sudah jadi trend berpoto hampir telanjang di depan kamera tanpa rasa canggung kaku atau malu, yang penting eksis mungkin kata kata itu yang paling tepat untuk

Gadis Lugu berfoto hampir telanjang bag 3

Gadis lugu yang baru beranjak dewasa ini berani berfose hot bangget hampit telanjang tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya  coba langsung di cek aja koleksi foto gadis lugunya hati hati siap siap tisunya heheh :D











gmana pose gadis lugunya bikin horny pastinya tenag kloksi pose gadis lugunya masih berlanjut, gadis gadis pemberani


Foto kumpulan cewek jepang telanjang lagi

Keponakanku Yang Seksi - Abis

Sambungan dari bagian 01

Kira-kira jam 3 sore, sedang nikmat-enaknya baca koran di ruang tamu rumah mertuaku sambil minum kopi. Si Ami (anaknya adik ibu mertuaku yang masih duduk di kelas 1 SMU dan adiknya Asih) datang menghampiriku lalu duduk di kursi sebelahku dengan wajah yang agak serius. "Ooom, Ami mau ngomong sedikit dengan om", (menceng juga si Ami ini, aku masih terhitung Masnya kok malah di panggil om). Aku jadi agak deg-degan melihat wajah Ami yang serius itu dan aku jadi yakin kalau yang mengintip tadi malam itu pasti dia, tapi dengan mencoba menenangkan diri aku bertanya pelan.

"Ami, ada apa kok kelihatannya serius benar sih?"
"Ami mau cerita ke Ibu dan Mbak Sri, soal om tadi malam dengan Mbak Asih", sahut Ami dengan ketusnya.
"Lho, lho tenaang sedikit dong Aam, Om kok tidak mengerti maksud Ami", jawabku dengan sedikit gemetar.
"aah om ini pura-pura tidak mengerti, padahal Ami melihatnya cukup lama apa yang om lakukan dengan Mbak Asih di kamarnya."

Aku jadi benar-benar kaget mendengar kata-kata Ami, yang rupanya cukup lama melihat apa yang kukerjakan dengan Asih, tapi aku masih berusaha tetap tenang dan berpikir, "Masak sih kalah dengan anak kemarin sore?"
"Ami..", kataku lirih tapi tetap kubuat agar setenang mungkin,
"Jadi Ami lama melihatnya? Kok Ami sampai tahu sih", tanyaku lagi. Dengan tetap menunjukkan wajahnya yang serius segera Ami menceritakan bahwa tadi malam, sewaktu selesai pipis di kamar mandi dan mau kembali ke kamarnya, samar-samar seperti mendengar orang sedang merintih. Karena berpikiran pasti ada yang lagi sakit, lalu Ami mencari dari mana datangnya suara rintihan itu dan ternyata datangnya dari kamar mbaknya. Tetapi karena rintihannya terdengar bukan seperti rintihan orang sakit, Ami membatalkan niatnya untuk masuk kamar mbaknya, tetapi hanya mengintip lewat korden yang menutupi pintu kamarnya Asih yang setengah terbuka dan diperhatikannya agak lama. Ami segera meninggalkan kamar mbaknya dan lalu pergi tidur karena Ami menyangka kalau aku melihatnya sewaktu wajahku menatap ke arah pintu kamar Asih.

"Oooh, Ami melihatnya cukup lama yaa? jadi tahu doong semuanya", kataku seperti bertanya tapi tidak mendapat jawaban dari Ami yang tetap membisu.
"Amii", kataku tetap lirih sambil kupegang tangannya,
"Toloong doong Am, jangan cerita ke orang lain apalagi ke Ibu dan Mbak Sri, om janji tidak ngulangi lagi deeh dan om mau deh bantu Ami apa saja, asaal Ami tidak cerita-cerita", kataku lanjut. Ami tidak segera menjawab kata-kataku dan juga tidak berusaha melepas tangannya yang kupegang, tapi tiba-tiba Ami menarik tangannya dari peganganku dan balik memegang tanganku sambil mengguncangnya serta berkata,
"Jadii om mau bantu Ami?" Mendengar kata-kata Ami terakhir ini, dadaku terasa agak plong.
"Amii, seperti kata om tadi, om akan bantu Ami apa saja asaal Ami janji tidak cerita-cerita", jawabku dengan sedikit penuh kekhawatiran.
"Jadii apa yang bisa Om bantu buat Ami?" tanyaku melanjutkan.
"Amii janji deeh om, cuma Ami saja yang tahu", kata Ami lalu diam sebentar.
"Oom begini.." kata Ami lalu dia menceritakan kalau pacarnya mau ulang tahun besok dan Ami mau mentraktir makan dan memberikan hadiah ultah pacarnya, karena dulu dia juga diberi hadiah sewaktu ultah, tetapi waktu kemarin minta ke ibunya bukannya diberi tetapi malah dimarahi. Setelah Ami menyelesaikan ceritanya lalu kutanya,

"Amii.., Ami butuh uang berapa..?" Ami tidak segera menjawab, tapi kemudian katanya, "Yaa terserah om saja seratus ribuu juga boleh Om", katanya sambil meremas tanganku yang dari tadi dipegangnya. Tidak kusangka aku bisa diperas oleh anak kecil, tapi yaa.. apa boleh buat daripada rahasia terbongkar, kataku dalam hati sambil terus kucabut dompetku dari kantong belakang dan mengeluarkan uang sebesar 250 ribu dan kusodorkan ke tangan Ami sambil kukatakan, "Nih Am, om kasih dua ratus lima puluh ribu buat Ami tapi sekali lagi janji lho yaa?" Ami menyambut uang yang kusodorkan sambil memelototkan matanya seperti tidak percaya serta berseru "Betuul niih Om?" dan aku menjawabnya dengan senyuman saja dan tiba-tiba Ami berdiri, memelukku sehingga kedua payudaranya yang kurasa lebih kecil dari payudaranya Asih kakaknya menempel di dadaku serta terus mencium pipiku sambil berseru "Maa kasiih yaa om, Ami janjii deeh", dan langsung mau lari kabur karena kesenangan. Tetapi langkahnya tertahan ketika tangannya kupegang dan segera kukatakan, "Amii tunggu dulu doong kita ngobrol dulu mumpung tidak ada orang." "Ngobrol apaan sih om", tanya Ami sambil duduk kembali di kursinya.

"Ami, om mau tanya yaa, tadi malam Ami melihatnya sampai lama sekali kenapa sih? pasti Ami pernah melakukannya juga yaa dengan pacar Ami?"
"aahh om siih mancing-mancing", jawab Ami sambil tertawa cekikikan.
"Benarkan Am? Buat apa sih om mancing-mancing, lihat dari jalannya Ami saja, Om sudah yakin kok kalau Ami sudah pernah", kataku sedikit serius agar Ami mempercayai omongan bohongku, padahal dari mana tahunya, kataku dalam hati. Ami sepertinya sudah termakan dengan omonganku, lalu sambil menggeser kursinya mendekati kursi yang kududuki Ami segera bertanya,
"Bee..tul yaa om? Jadi kira-kira ibu apa juga tahu om?"
"Aduuh mati.. saya Om, kalau ibu sampai tahu?" kata Ami sedikit sedih dan ketakutan. Karena aku sudah bisa menguasai Ami, lalu kuteruskan saja gombalanku.
"Amii, coba deh ceritain ke om dan om juga yakin kalau ibu tidak akan tahu, karena sesama wanita biasanya tidak bisa melihat gelagat-gelagatnya", kataku dan kelihatannya Ami percaya betul dengan gombalanku.

Setelah diam sebentar dan mungkin Ami sedang berpikir dari mana mau memulai ceritanya, lalu setelah menarik nafas panjang kudengar Ami mulai bercerita, "Begini om.." untuk menyingkat cerita, jadi pada prinsipnya Ami sudah dua kali melakukan dengan pacarnya yang duduk di kelas 2. Pertama, dilakukan di rumah pacarnya, tapi baru saja menyenggol barang Ami, eh.. sudah muncrat dan yang kedua katanya kira-kira dua minggu yang lalu dan kembali dilakukan di rumah pacarnya, barang Ami terasa sakit sewaktu pacarnya mulai menusukkan barangnya, tapi ketika Ami baru memegang barang pacarnya, eh.. tiba-tiba barang pacarnya mengeluarkan cairan putih dan langsung letoi, kata Ami sambil terus ketawa cekikikan.

"Oom.., apa sih enaknya gituan?" tanyanya.
"Ami kok tidak pernah merasakan apa-apa, tapi yang tadi malam sepertinya Mbak Asih kok terus-terusan merintih keenakan dan om juga begitu", katanya lagi.
"Memangnya nikmat yaa om?" Gila juga anak-anak sekarang ini, pikirku, sudah berani berbuat sejauh itu padahal Ami baru kelas 1 SLA.
"Yaa nikmat doong Mii", kataku sambil kuusap-usap salah satu pipinya yang terasa sangat mulus dengan punggung tanganku dan kelihatannya Ami diam saja dan menikmati usapan itu.
"Pacar Ami saja yang payah yang tidak bisa membuat Ami nikmat memangnya Ami kepingin yaa", sambungku.
"Iiihh om genit aah", jawab Ami sambil menepuk pahaku agak keras lalu terdiam sesaat seperti sedang berpikir.
"Oom.." kata Ami sambil terus berdiri dari kursi,
"Ami mau pergi dulu yaa mau cari-cari hadiah."
"Oh iyaa.. om yang tadi terima kasih yaa", katanya lagi sambil terus beranjak meninggalkanku, tapi baru beranjak selangkah Ami segera berbalik melihatku sambil berkata,
"Oom, nanti malam tolong ajarin Ami pelajaran kimia yaa?" Karena takut Asih curiga lalu kujawab saja permintaan Ami,
"Tidak mau ah Am, besok siang saja nanti Mbak Asih curiga."
"Lho Om Tris tidak tahu yaa kalau Mbak Asih dan ibu tadi pagi pergi ke Surabaya mau lihat Bapak?"
"Apa tadi tidak pamit, Om?" kata Ami sambil terus pergi tanpa menunggu jawabanku.

Malam harinya setelah selesai mendengarkan Dunia Dalam Berita dan beranjak mau mengunci pintu-pintu rumah mertuaku lalu terus tidur, muncul si Ami dari rumahnya sambil agak berlari dan memegang pintu yang akan kututup serta langsung berkata,
"Lho om sudah mau tidur?"
"Iyaa Am, om sudah ngantuk", jawabku malas.
"Yaa om kok gituu, katanya mau ngajarin Ami, ayo dong om ajarin pelajaran kimia", rengek Ami sambil mengguncang tanganku. Melihat Ami hanya pakai celana pendek dan baju yang cekak sehingga perut dan pusarnya kelihatan, memdadak kantukku jadi hilang, lalu sambil keluar dari pintu dan menutupnya dari luar, lalu kujawab,
"Ayoo kalau mau Ami begitu." Ami duduk di tempat di satu satunya tempat duduk yang diduduki oleh Asih kemarin di meja makan sambil membuka buku pelajarannya dan karena tidak ada kursi lain, aku berdiri di belakang kursi yang diduduki Ami. Ketika aku menuliskan dan menerangkan rumus-rumus kimia, aku hanya menjulurkan kepalaku kesamping kanan kepala Ami dan sesekali kualihkan pandanganku ke dalam baju Ami dan terlihat payudara Ami yang kecil tanpa memakai BH. Melihat ini penisku mulai berdiri di dalam celana pendek yang kupakai, sedangkan Ami tetap serius mendengarkan keterangan-keterangan yang kuberikan dan tidak menghindar atau menjauhkan badannya kala aku beberapa sengaja menempelkan pipiku ke pipinya. Pada saat Ami sedang menulis jawaban soal-soal yang kuberikan, kudekatkan wajahku ke wajahnya dan sengaja kuhembuskan nafasku ke dekat kupingnya sehingga Ami sambil terus menulis berkomentar, "Oom, nafasnya kok panas?" Komentar Ami tidak kujawab, tapi segera kucium pipinya dua kali dan Ami segera menghentikan menulisnya dan berkata, "Oom, jangan nakal dong", sambil kembali mau menulis.

Karena nafsuku semakin meningkat dan Ami hanya mengatakan begitu, keberanianku semakin bertambah dan pelan-pelan tanganku menyelusup lewat baju pendeknya bagian bawah dan kudekap kedua payudara Ami yang kecil itu serta kuremas pelan, dan kulihat dia melepaskan pinsil yang dipegangnya dan menutup kedua matanya sambil berdesah lirih, "Ooom sshh jaangaan Ooom", dan memegang serta meremas pelan kedua tanganku dari luar bajunya. Sambil tetap kuremas-remas payudaranya, segera wajahku mencari bibir Ami dan kucium dan Ami seperti kesetanan melumat bibirku dengan ganasnya sehingga dalam benakku terlintas pikiran anak sekecil ini kok sudah pintar berciuman. Dengan masih tetap kudekap kedua payudaranya dan berciuman, kugunakan kekuatan badan dan sikuku untuk merubah posisi kursi yang diduduki Ami dan setelah kuanggap baik, sambil tetap kucium bibirnya kulepaskan dekapan tangaku pada payudaranya dan kuraih kedua pahanya serta kubopong badan Ami serta kukatakan, "Amii, kitaa ke kamar Mbak Asih yaa", Ami tidak menjawab tapi hanya memegangkan tangannya ke bahuku.

Kutidurkan Ami di tempat tidur kakaknya dan segera kuangkat bajunya dari bawah serta kujilat dan kuhisap-hisap payudara Ami yang masih terbilang kecil, maklum baru kelas 1 SLA tapi sudah berani belajar intim dengan pacarnya dan Ami meremas-remas rambutku sambil mendesah, "Ooom, Ooom sshh sshh Ooom." Kuteruskan jilatan dan isapanku di kedua payudaranya bergantian dan kugunakan tangan kananku berusaha mencari dan membuka celana pendek Ami dan setelah kutemukan ternyata celana pendeknya memakai ritsluiting. Kubuka ritsluitingnya pelan-pelan dan kususupkan tanganku kedalam CD-nya serta kuelus permukaan vaginanya yang kecil dan terasa masih licin dan mulus seperti punya bayi tanpa ada bulu-bulunya dan ketika kuelus permukaan vaginanya, terasa Ami menggerakkan pinggulnya pelan dan masih tetap dengan desahannya yang kudengar semakin agak keras, "Ooomm sshh sshh Ooom." Lalu sambil mengelus vagina Ami yang cembung, kuselipkan jari tengahku di belahan vaginanya dan terasa sudah basah sekali dan jari telunjukku itu kutekan agak masuk dan kuusap-usapkan sepanjang belahan vaginanya dan ketika sampai di clitorisnya yang terasa kecil, kuusap-usapkan di seluruh clitorisnya sehingga membuat Ami menggelinjang agak keras dan mendesah semakin kuat, "Ooom sshh oom jaangaan oom sshh", dan desahan ini membuat nafsuku semakin tinggi dan penisku semakin tegang dan agak sakit terjepit celana pendekku.
 Perlahan-lahan aku menurunkan badanku kebawah dan jilatanku pun sudah disekitar perut dan pusarnya, dan kedua tanganku kugunakan melepas celana pendek dan celana dalam Ami bersamaan, sedang tangan Ami masih tetap meremas-remas rambut dan kepalaku. Sambil melepas kedua celananya, mulutku sekarang sudah sampai di vaginanya yang menggembung mulus tanpa bulu-bulu sama sekali dan tercium bau aroma vagina yang khas. Karena Ami masih tetap merapatkan kedua kakinya, lalu kugunakan kedua tanganku untuk membuka kedua kakinya. Pertama-tama agak susah karena Ami berusaha menahan supaya kakinya tetap rapat sambil terdengar rintihan desahannya, "Ooom jaangaan oom suudaah oom", tetapi ketika lidahku kujulurkan dan kujilati sepanjang belahan vagina Ami yang agak terbuka itu, pertahanan kaki Ami untuk tetap merapat itu sudah hilang dan kedua kakinya dapat kubuka lebar dengan mudah dan terlihat bagian dalam vagina Ami yang basah dan kemerahan itu dan malah terasa Ami menaik-naikkan pinggulnya tapi tetap mengeluarkan rintihannya, "Ooom, suudaah oom sshh oom."

Semakin Ami mendesah atau merintih, nafsuku semakin kuat dan kujilati seluruh bagian vagina Ami dan sesekali klitorisnya kuhisap-hisap membuat desahan Ami semakin kuat dan kedua tangannya semakin keras meremas-remas rambut dan menekan kepalaku sehingga seluruh wajahku terasa basah semuanya dengan cairan yang keluar dari vaginanya, dan beberapa saat kemudian kurasakan gerakan pinggulnya naik turun semakin cepat dan jambakan di rambutku semakin kuat serta desahannya semakin keras, "Ooohh ooh oom aduuh oom sshh aahh ooh", dan aku jadi agak kaget karena tiba-tiba kepalaku terjepit kedua kakinya yang dilingkarkan di badanku serta kepalaku ditekan kuat-kuat ke dalam vaginanya serta tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan erangan agak kuat, "Aah aah aduuh Ooom aahh Ooom enaak", lalu Ami terkapar diam, kedua kakinya yang tadi menjepit kepalaku jatuh di atas kasur disertai nafasnya terengah-engah dengan cepat, rupanya Ami telah mencapai orgasmenya.

Kami Melakukanya lagi saat kesempatan ada